Blog

Asal Muasal Jas Hujan

Selamat datang bulan November! Identik dengan hari pahlawan. Tau dong apa pahlawan ketika berkendara saat hujan? Ya jas hujan. November juga sudah menuju musim hujan akhir tahun. Ngomong – ngomong tentang November dan sejarah, kali ini kita akan bahas sejarah terciptanya jas hujan. Barang yang akan menemani aktivitas kita, karena akhir tahun adalah waktu datangnya musim hujan.

Kalau pejalan kaki harus menyediakan payung sebelum turun hujan, maka pengendara sepeda motor harus membawa jas hujan di dalam bagasi agar tidak basah saat beraktivitas diluar. Jas hujan menjadi properti wajib para pengendara roda dua di musim hujan. Mudah dibawa, ringan dan bisa langsung digunakan ketika diperlukan membuat jas hujan menjadi solusi utama pengendara motor. Karena itulah, perkembangan jas hujan kian pesat dengan aneka model dan warna untuk memebuhui kebutuhan konsumen. Tahukah kamu? sejak kapan dan di manakah jas hujan pertama kali dibuat?

Seperti disebutkan metrotvnews.com, pada dasarnya, tentu manusia membutuhkan pelindung dari berbagai elemen yang ada di alam seperti hujan, angin, salju, bahkan debu. Kembali ke zaman batu, saat itu para Homo Sapiens dengan cepat belajar melindungi tubuh dengan mengenakan semacam lapisan kain yang terbuat dari bulu binatang. Kain itu kemudian diberi lapisan minyak yang bisa membuatnya antiair juga membuat tubuh lebih hangat.

Semenjak itu, manusia mulai belajar menciptakan pakaian antiair menggunakan baragam bahan. Suku Inca membuat ekstrak getah dari daun dan kulit kayu seperti tanaman karet lalu diolesi ke pakaian mereka. Adapun suku Inuit dan bangsa Viking merendam pakaian dalam minyak ikan untuk hasil yang sama. Masyarakat Saxon mengoleskan lemak hewan pada kain karung longgar tenunan mereka untuk meminimalkan penyerapan air.

Seiring berjalan waktu, manusia semakin berinovasi dalam menciptakan jas hujan. Suku Inca telah mampu melindungi tubuh mereka dari hujan dengan membuat ekstrak getah dari kulit kayu yang diolesi ke pakaian mereka. Begitu pula dengan suku Inuit dan bangsa Viking yang merendam baju mereka ke dalam minyak ikan dengan tujuan yang sama. Tidak ketinggalan dengan masyarakat Saxon yang mengolesi kain tenunan mereka dengan lemak binatang untuk mengurangi penyerapan air.

Zaman pun semakin berkembang terutama saat Revolusi Industri terjadi. Dengan menggunakan bahan kimia tambahan, kain yang bersifat waterproof pun tercipta. Penemuan ini diprakarsai oleh ahli kimia Charles Macintosh pada tahub 1816. Dia mengembangkan lem dengan menggunakan produk dari penyulingan batu bara yang bernama naptha. Lem tersebut ia gunakan untuk lapisan tenun yang ditekan bersama kain wol denhan menggunakan rol. Jas hujan tersebut dipatenkan pada 1823. Sayangnya, jas hujan yang tahan air itu sangat berat dan berbau karet. Tidak hanya itu, jas hujan yang dipatenkan Macintosh juga sangat berat kaku serta selalu bolong saat dijahit.

Manchitos kembali melakukan inovasi dengan menggandeng Thomas Hancock. Kali ini sang ahli kimia dan rekannya mengembangkan proses vulkanisasi yaitu memanaskan lateks dan menggabungkannya dengan sulfur dan akselerator. Hasilnya, karet menjadi kuat dan lebih elastis sehingga tercipta kain yang lebih lembut, mudah dijahit, dan kedap air tentunya.

Puluhan bahkan ratusan tahun berikutnya, inovasi untuk menghasilkan kain yang antiair semakin berkembang. Ditambah lagi dengan kemajuan di bidang teknik dan kimia sehingga bahan-bahan yang digunakan untuk menghasilkan kain yang anti terhadap air juga semakin aplikatif.

Pada zaman sekarang, kain yang tahan air tersebut dapat dimodifikasi dan didesain menjadi jas hujan dengan berbagai jenis. Tidak hanya model jas hujan yang didesain semenarik mungkin, pemilihan warna terhadap baju antiair ini juga beragam. Umumnya warna yang dipilih adalah warna-warna terang yang berfungsi untuk memudahkan pemakainya terlihat saat hujan lebat terutama ketika jarak penglihatan berkurang.

Wah, ternyata cukup panjang juga ya bagaimana jas hujan diciptakan. Berhubung sudah mulai masuk musim penghujan, penting untuk kita mempersiapkan a.k.a membelinya kalau memang sudah rusak, atau bisa juga memakai yang sudah ada. Yang jelas jangan sampai ketinggalan ya! Hujan, harus PLEVIA!

Write a comment